ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 1.4 PENERAPAN BUDAYA POSITIF TUGAS INDIVIDU MODUL 1.4.a.10 AKSI NYATA
Sumber | : | Modul 1.4 Program Pendidikan Guru Penggerak |
Penulis | : | SLAMET WIDODO,S.Pd |
CGP angkatan 4 SD Negeri 1 Simo Kab. Boyolali
Pendamping Praktik : Dian Perdana R
Fasilitator : Wahyu Jatmiko
1. Latar Belakang
Bagaimana
mendisiplinkan peserta didik bermula dari kesadaran, dan menumbuhkan motivasi
intrinsik. Bagiamana disiplin dan budaya poisitif yang sudah ada dan menonjol
dapat tumbuh dan berkembang menjadi karakter semua warga sekolah. Bagaimana
Budaya positif di sekolah yang harus dikembangkan guru untuk mewujudkan
karakter atau profil pelajar Pancasila. Serta bagaimana efektifitas komunikasi
dua arah yang diciptakan dapat membantu menumbuhkan kesadaran murid agar
menjadi pribadi yang berempati dan berbudaya disiplin positif. Kesadaran akan
penerapan disiplin masih berdasarkan motivasi ekstrinsik, dimana pembiasaan
positif yang diterapkan bukan disiplin positif, namun masih menganut reward dan
punishment. Komunikasi yang dibangun masih satu arah, peran atau kontrol guru
belum sampai pada tahap manager melainkan sebagai hakim bagi murid.
Hampir
dua tahun pandemi Covid -19 melanda seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia
yang dampaknya sangat luar biasa, termasuk dari segi pendidikan. Banyak upaya
yang dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid -19 ini, salah
satunya adalah percepatan pemberian vaksin, sekolah mulai dibuka dengan
melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ( PTM ). Dalam pelaksanaan PTM
terbatas murid harus tetap menjaga Protokol Kesehatan ( Prokes). Prokes
merupakan kebiasaan baru yang harus dilakukan oleh semua warga sekolah, yang
bertujuan demi keselamatan semua warga.
Sejalan dengan salah
satu pemikiran Ki Hajar Dewantara dibidang pendidikan adalah bahwa tujuan
pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya
dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar
dapat diperbaiki lakunya ( bukan dasarnya ) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat
anak. KHD Menjelaskan dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dn
kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “ sifat” dan “bentuk “ dimana
lingkungan mereka berada, sedangkan kodrat zaman berdasarkan “ isi dan irama “
( Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21).
Berdasarkan
latarbelakang diatas kebiasaan baru masa pandemi Covid -19 harus terlaksana
dengan baik melalui Visi Guru penggerak ataupun Visi Sekolah agar terwujud
" Profil Pelajar Pancasila ".
2. Deskripsi Aksi Nyata
Mengapa
harus disiplin positif, karena semua aturan-aturan yang diterapkan ditujukan
untuk melahirkan mental-mental disiplin yang berdasarkan kesadaran individunya.
Budaya positif lahir karena semua pemangku kepentingan sadar akan pentingnya
taat terhadap sebuah aturan. Taat bukan karena ada konsekuensi dibalik semua
itu, tapi pembiasaan bermula dari dalam diri. Mulai dari diri yang merupakan
ciri dari motivasi intrinsik dimana karakter disiplin yang kuat akan terbentuk.
Dalam menciptakan budaya ajar yang baik, budaya positif di sekolah tidak
berdiri sendiri. Karena dibutuhkan sinergitas antar semua pemangku kepentingan
di sekolah dalam pembiasaan-pembiasaan positif yang diterapkan. Pembiasaan
positif yang akan membudaya dan berakar. Sehingga budaya tersebut dapat menjadi
suatu kekuatan unuk menerapkan disiplin positif sekolah.
Penerapan
budaya positif seperti religious, disiplin dan toleransi antar sesama dikaitkan
dengan nilai-nilai pofil pelajar Pancasila yaitu: Beriman dan bertakwa pada
Tuhan YME, kemandirian, bernalar kritis, kreatif, bersifat kebhinekaan dan
bergotong royong. Dimana nilai-nilai itu akan menjadi dasar pembiasaan positif.
Ketika pembiasaan yang dimaksud menjadi karakter maka akan mudah mencetak
generasi pelajar Pancasila yang berempati dan kritis yang memiliki daya saing
global dengan kreatifitas tanpa batas namun tetap mengusung kebhinekaan dan
gotong royong sesama.
Jika
pembiasaan sudah menjadi membudaya, dan menjadi karakter individunya dalam
sebuah institusi sekolah maka akan dengan mudahnya visi sekolah diciptakan.
Begitu juga materi pada modul sebelumnya dimana nilai-nilai dan peran guru
yaitu pembelajaran berpusat pada murid, dengan kolaborasi, refleksi, guru akan
mudah berinovasi dan kemandirian belajar menjadi sebuah keniscayaan jika
karakter guru nya kuat. Mengapa harus berpusat pada murid, karena sesuai dengan
refleksi filosofi pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pembelajaran
dengan sistem among. Guru sebagai fasilitator di depan menjadi contoh, ditengah
sebagai penyemangat dan di belakang menjadi pendorong demi majunya sebuah
Pendidikan yang bermula dan berpusat pada kebutuhan murid. Dalam terwujudnya
Visi sekolah pada modul dan aksi nyata sebelumnya, erat kaitannya bagaimana
seluruh pemangku kepentingan dalam hal ini seluruh warga sekolah bersinergi
saling menguatkan dan menumbuhkan karakter positif melalui
pembiasaan-pembiasaan positif.
Memunculkan
kekuatan, dan menyamarkan yang hal-hal yang bersifat stagnan. Sehingga yang
diharapkan semua bergerak untuk menuju perubahan yang signifikan. Dengan
berkolaborasi membentuk karakter baik dan menerapkan disiplin positif yang akan
menjadi budaya sekolah. Dengan memulainya dari kelas, mulai dengan murid yang
diajar, mulai dengan mata pelajaran yang diampu. Peran guru penggerak dalam
menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dan peserta didik dalam membangun
budaya positif yaitu dengan menguatkan apa yang sudah menjadi budaya dan iklim
baik di sekolah.
Bagaimana
menumbuhkan budaya positif di kelas, sehingga menjadi budaya positif di sekolah
dan menjadi visi sekolah?. Kelas adalah miniatur dari sekolah, dan sekolah
adalah miniatur dari bangsa. Bangsa yang berbudi pekerti baik serta berdisiplin
positif bermula dari bangku-bangku di sekolah. Sehingga bagaimana menumbuhkan
budaya positif adalah bermula dari kegiatan belajar mengajar di kelas dan upaya
guru berinteraksi dengan murid.
Bagaimana
menyentuh individu-individu agar berkarakter positif, bisa diawali dengan
menciptakan iklim komunikasi dua arah. Membangun komunikasi dua arah, adalah
cara efektif mengetahui harapan-harapan dari seorang murid terhadap proses
pembelajaran yang dia peroleh dan impikan. Pentingnya mengetahui harapan dan
impian murid adalah salah satu Tindakan reflektif dalam proses pembelajaran
serta penerapan nilai dan peran guru.
Membangun
kercayaan diri murid adalah sangat penting karena dengan kepercayaan diri akan
muncul empati. Ketika empati dan karakter lain seperti bernalar kritis muncul
sebagai akibat dari sebuah interaksi disitulah akan muncul kreatifitas dan
inovasi-inovasi murid. Sehingga karakter dan budaya positif akan dengan
sendirinya muncul berawal dari pembiasaan positif di kelas.Komunikasi dua arah
juga memberikan kesempatan murid bertanya, dengan pembiasaan bertanya disinilah
awal mula karakter bernalar kritis akan terbentuk. Komunikasi dua arah juga
akan menimbulkan percaya diri pada murid karena merasa dihargai dan
didengarkan. Ketika murid memiliki aspirasi dan dapat mengeluarkan pendapatnya
itu merupakan suatu apresiasi luar biasa bagi sebuah interaksi guru dan murid.
Strategi
yang dapat dilakukan untuk menerapkan budaya positif di sekolah dengan
memanfaatkan sumber yang dimiliki, diantaranya mengaktifkan kegiatan literasi
sekolah, sehingga akan berpengaruh pada pola dan kebiasaan dalam belajar.
Menerapkan dan membiasakan komunikasi dua arah pada seluruh warga sekolah.
Dampak yang ingin dilihat adalah kesadaran berdisiplin positif dan membangun
budaya positif dimanapun murid berada. Berawal dari peran guru membudayakan
disiplin positif dengan mengubah paradigma disiplin menjadi disiplin positif.
Melalui keyakinan sekolah siswa dapat
melakukan budaya disiplin yaitu
kebiasaan baru 5 M( mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga Jarak, Menghindari
Kerumunan, Mengurangi Mobilitas )serta siswa dapat menerapkan budaya lingkungan
yang bersih, agar pembelajaran terasa nyaman, sesuai Visi sekolah “ Luhur dalam
Budi pekerti, Unggul dalam prestasi dan bertaqwa Kepada Tuhan YME. Budaya positif yang sudah ada di sekolah kami
yang lainnya adalah 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun)
Dimana
program-program di semua lini dapat dijalankan serta terintegrasi dan membentuk
kebiasaan positif.
Tolok Ukur Budaya Disiplin Positif
1. Peserta didik
terbiasa melakukan kebiasaan baru 5 M di masa Pandemi Covid-19.
2. Peserta didik aktif
, kreatif, dan bertanggung jawab
3. Peduli dan
mencintai kebersihan lingkungan
4. Toleran dan saling
menghormati
5. Pola hidup sehat,
berpakaian rapi, dan bersih.
Linimasa tindakan yang akan dilakukan
- Membuat program
- Koordinasi dengan
KS
- Sosialisasi
terhadap warga sekolah ( KS, Guru, tendik, dan Siswa )
- Pelaksanaan Program
, Evaluasi Kegiatan, dan refleksi
Aksi
nyata kali ini dalam rangka menumbuhkembangkan budaya positif yang sudah ada
disekolah. Mengajak semua pemangku kepentingan untuk senantiasa melestarikan
dan menjaga hal-hal baik dan positif agar terus mengakar dan menyeluruh ke
semua warga sekolah. Terutama mengimbaskan di kalangan murid atau peserta didik
dengan motivasi dan dukungan guru pengampu mata pelajaran. Serta bimbingan
walli kelas dalam apresiasi budaya positif dalam dan antar anggota kelas.
Untuk menerapkan
pembiasaan budaya positif diperlukan komunikasi antar pemangku kepentingan, karena konsekuensi
bersama terhadap sebuah aturan dalam rangka penerapan disiplin positif tidak
akan berhasil tanpa kesadaran penuh dari masing-masing individu. Untuk itu
diperlukan kesepakatan bersama di dalam kelas jika lingkupnya guru mata
pelajaran dalam satu kelas. Jika kesepakatan dala satu sekolah, berlaku untuk
semua pemangku kepentingan di sekolah.
Hasil tanggapan
itu yang akan direspon kembali oleh peserta didik yang akan menjadi draft
kesepakatan kelas. Peserta didik merespon, guru sebagai kontrol kelas
mengarahkan bagaimana agar keinginan-keinginan yang mereka tuangkan dalam
angket dapat diwujudkan. Tentunya dengan bekerja sama menentukan formula dari
kesepakatan kelas, agar memudahkan semua yang terlibat dalam pelaksanaannya.
Diawali dengan
sebuah percakapan sapaan seperti biasa, “anak-anak apakabar kalian sekarang…?”,
“apakah belajar kalian sudah nyaman?, “kira-kira bagaimana agar kelas dan
kegiatan belajar nyaman, pembelajaran seperti apa yang kalian inginkan?. “agar terwujud
kelas yang diimpikan, kira-kira apa yang harus dilakukan?”. “Setelah semua ter susun keinginan dan harapan, dalam bentuk kalimat positif, kemudian disimpulkan
cara menempuh impian dan harapan tersebut”. draft kesepakatan sudah tersusun, kemudian di sepakati bersama, dengan menandatangani draft
ini dalam sebuah poster”.
3. Hasil dari Aksi Nyata
Feedback
dari siswa dan semua pemangku kepentingan di sekolah, kepala sekolah, guru,
peserta didik, orangtua, komite dan semua tenaga kependidikan, serta semua
warga di lingkungan sekitar sekolah. Tantangan dalam menerapkan budaya positif,
adalah menghadapi murid yang notabene nya di usianya 6-12 tahun atau anak SD dimana karakternya yang akan dibentuk
merupakan karakter Dasar / pondasinya.
Tentu sangatlah sulit, dan perlu di bentuk sebagai bekal nanti dewasa.
Apalagi sekarang menghadapi masa Pandemi harus membiasakan hal – hal baru dan
kebiasaan -, kebiasaan baru.
Respon
peserta didik tentu saja merasa senang dan apresiatif, mereka bersemangat
melakukan perubahan aturan-aturan kelas. Bersemangat untuk menyepakati draft
kesepakatan karena motivasi intrinsik untuk menjadi lebih baik. Tantangannya
adalah ketika ada suara-suara sumbang yang enggan memberikan suara, dan tidak
mengisi formulir atau angketnya. Ada juga yang tidak memberikan respon
tanggapan meski terhadap respon antar teman. Barangkali yang tidak memberikan
suaranya masih bingung, tapi ada yang hanya merespon tanggapan temannya saja.
Tantangannya lagi adalah mengontrol kelas agar kondusif fokus dalam kegiatan
positif di satu sisi mendengar hal-hal lain dari peserta didik yang kesemuanya
harus disaring Kembali.
4. Pembelajaran yang didapat dari
pelaksanaan
Proses
kegiatan aksi nyata ini belum seratus persen terlaksana sesuai dengan rancangan
karena terbentur dengan agenda dan kelender Pendidikan dimana pada masa bulan
target pelaksanaan aksi nyata adalah diwaktu libur.
Jika
budaya positif terlaksana dengan baik, hal baik yang akan muncul adalah
ditandai dengan kebiasaan komunikasi dua arah antar semua pemangku kepentingan.
Rencana yang awalnya sekolah akan mulai dibuka, ternyata PSBB diperpanjang
karena kasus pandemic covid -19 masih tinggi. Sehingga rencana tindakan aksi
nyata tidak sesuai seratus persen dengan rancangan dan fakta yg dihadapi. Jadi
proses sosialisasi dan pemberian feedback serta pembiasaan positif dilakukan
dengan keterbatasan.
5. Rencana Perbaikan untuk
pelaksanaan di masa mendatang
Rancangan
aksi nyata ini akan diteruskan untuk menyambut semester 2, kolaborasi membuat kesepakatan kelas yang
berpusat pada murid dengan beberapa konten atau isi berisi aspirasi peserta
didik. Tahapan refleksi akhir semester akan dijadikan acuan pelaksanaan
pembelajaran di semester berikutnya. Dengan mengagendakan kegiatan sharing dan
kolaborasi Bersama antar guru mata pelajaran, Mengagendakan untuk
mensosialisasikan budaya positif kepada semua pemangku kepentingan.
Mengimbaskan disiplin positif pada peserta didik, dan membiasakan selalu
komunikasi dua arah dengan peserta didik. Pembiasaan meminta aspirasi dari
peserta didik. Dan membiasakan memberi apresiasi terhadap kemajuan dan
perkembangan peserta didik atas pencapaiannya membudayakan budaya positif.
Perubahan
yang akan dilakukan, mulai dari diri sendiri membudayakan 5 S, dan menerapkan
kedisiplinan dengan cara berkomunikasi dengan siswa secara dua arah. Menerima
dan memberikan aspirasi murid merdeka dalam menentukan daftar kesepakatan
belajar bersama. Dengan kontrol guru, semua menyepakati poin-poin kesepakatan
dan di tandatangani oleh masing-masing. Serta membiasakan kebiasaan baru masas
pandemi yaitu 5 M yang harus dibiasakan dengan baik . Melakukan refleksi bersama atas kesepakatan
yang diberlakukan. Perubahan yang diharapkan akan dirasakan, mampu berempati
kepada siswa, karena lebih banyak mendengar daripada menginstruksikan, lebih
banyak menerima aspirasi ketimbang arahan-arahan yang tidak efektif.
6. Dokumentasi
proses
dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto
Berikut
caption/narasi singkat:
Penyusunan Program Budaya Sekolah
































Tidak ada komentar:
Posting Komentar