Di Susun Oleh :
Slamet Widodo, S.Pd
SD Negeri 1 Simo
CGP Angkatan 4 Kabupaten Boyolali
RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Filosofi
yang sampaikan
oleh Ki Hajar Dewantara adalah momong, among, dan ngemong yang kemudian
dikembangkan menjadi tiga prinsip kepemimpinan KH Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha (
di depan memberi teladan), Ing Madya
Mangun Karsa ( di tengah membangun kehendak atau niat), dan Tut Wuri Handayani (di
belakang memberikan dorongan dan arahan)
Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan) seseorang guru sebagai pemimpin
pembelajaran harus bisa memberi teladan atau contoh kepada siswa. Karena
teladan merupakan kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran, sehingga ketika
pembelajaran berlangsung seorang pendidik harus membimbing dan mengarahkan agar
tujuan pembelajaran yang akan dicapai siswa tepat. Selama proses pembelajaran
guru tanpa sadar menjadi panutan bagi siswa baik dari kata maupun perbuatan.
Oleh karena itu pendidik sebagai pemimpin pembelajaran selain menguasai
pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh.
Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun kehendak atau niat) Guru sebagai pemimpin
pembelajaran memiliki peranan penting untuk menstimulus agar terciptanya
prakarsa dan ide di dalam proses pembelajaran. Kehadiran guru dapat
memfasilitasi dengan beragam metode dan strategi agar tujuan pembelajar dapat
tercapai. Selain itu, potensi yang dimilik oleh siswa dapat berkembang dengan
baik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan dan arahan) Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan dan coaching kepada siswanya, berikan kebebasan siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya guru memotivasi dan memberikan arahan terhadap siswanya.
"Apapun yang dikerjakan oleh seseorang itu, harusnya bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat untuk bangsanya, juga bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya" ( Ki Hajar Dewantara )
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
“Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral.” (Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43).
Dari kutipan tersebut
kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang tidak
terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai
atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak.
Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang
dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Etika
tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak
ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun
ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan dapat kita
digunakan sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil sebuah
keputusan. ketiga prinsip ini yang sering kali membantu dalam menghadapi
pilihan- pilihan yang penuh tantangan, yang harus kita hadapi sebagai pemimpin
pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut adalah:
Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Bagaimana
kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Melalui kegiatan
terbimbing tersebut bersama Fasilitator dan pendamping sangat banyak memberikan
manfaat dan memberikan bekal calon guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran.
-
Memerankan diri sebagai coach bagi murid Anda agar mereka
menjadi lebih merdeka, baik merdeka dalam belajar maupun merdeka dalam
menentukan arah hidupnya di masa mendatang.
- Mampu melakukan praktik
komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar seorang coach mampu
menerapkan praktik coach dalam komunitas sekolah
- Memahami konsep coaching
secara umum, meliputi definisi, tujuan, dan jenis coaching serta perbedaannya
dengan mentoring dan konseling
- Memahami hakikat
komunikasi yang memberdayakan dan mampu menerapkannya dalam praktik
coaching
- Memahami langkah-langkah
mendengar aktif dan mampu menerapkannya dalam praktik coaching
- Memahami langkah-langkah
bertanya reflektif dan mampu menerapkannya dalam praktik coaching
- Memahami langkah-langkah
memberi umpan balik positif dan mampu menerapkannya dalam praktik
coaching
- Mengidentifikasi peran
seorang coach di konteks sekolah
- Melakukan praktek
coaching berdasarkan model TIRTA kepada sesama CGP, murid dan rekan guru di
sekolah
- Mengembangkan sikap
terbuka, kritis, empati dan percaya diri dalam melakukan praktik coaching
Keterampilan coaching membekali calon guru penggerak menjadi pembelajar dan menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi untuk solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan keterampilan berhubungan sosial. Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfull), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Pengambilan keputusan yang tepat akan berpengaruh dengan terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dengan demikian akan berpengaruh bagi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita sering dihadapkan pada situasi di mana kita diharuskan mengambil suatu keputusan, namun terkadang dalam pengambilan keputusan terutama pada situasi dilema kita masih kesulitan misalnya lingkungan yang kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan, pimpinan tidak memberikan kepercayaan karena merasa lebih berwenang, dan meyakinkan orang lain bahwa keputusan yang diambil sudah tepat, perbedaan cara pandang serta adanya opsi benar lawan benar atau sama-sama benar. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan lebih jelas.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik
Seorang pendidik harus bisa melihat bagaimana persoalan tersebut apakah merupakan dilema etika atau merupakan bujukan moral, nilai-nilai yang yang akan diambil pun merupakan nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya adalah sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun siswa tersebut ke arah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran tentunya akan berdampak positif, aman, dan nyaman apabila kita bisa melihat kondisi saat mana kita akan mengambil sebuah keputusan yang tentu yang jika itu adalah dilema maka kita bisa meminimalisir dilema tersebut agar dalam pengambilan yang bersifat dilema itu tidak terlalu berpengaruh. Dan jika merupakan suatu bujukan moral kita harus pandai bahwa hal yang dilakukan salah dan nantinya guru sebagai pemimpin pembelajaran akan dengan bijak membuat keputusan namun tetap membimbing anak menuju ke pengambilan keputusan tepat baik untuk guru maupun untuk siswa. Dalam hal ini siswa tetap merasa bahwa guru adalah seorang pemimpin yang mampu membuat situasi kondusif, aman dan nyaman di lingkungan sekolah maupun sekitarnya.
Apakah kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Sebagai makhluk sosial
dan sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan suatu keputusan tidak akan
lepas dari dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan
situasional, yaitu antara benar-benar memegang aturan demi suatu
keadilan. Namun terkadang kita susah membedakan mana yang merupakan dilema
etika dan bujukan moral, misalnya saja kasus berbohong yang sudah pasti
merupakan tindakan salah , meskipun tujuannya baik tetap saja merupakan
kesalahan. Adapun hal yang perlu diperhatikan sebelum
mengambil sebuah keputusan dalam dilema etika, 4 paradigma,
- Individu lawan masyarakat (individual vs community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Dilema individu melawan masyarakat adalah pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan kelompok yang sangat besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya, bisa juga konflik kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar.
Rasa keadilan lawan rasa kasihan dalam paradigma ini adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
Kebenaran lawan kesetiaan, kejujuran dan kesetiaan sering kali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika . kadang kita perlu membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
Jangka pendek lawan jangka panjang, paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang akan memilih akan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi pada level personal dan permasalahan sehari-hari atau pada level yang lebih luas.
Selain itu ada tiga prinsip yang yang membantu menghadapi
pilihan yang penuh tantangan (Kidder, 2009, hal 144) ketiga prinsip itu adalah
- Berpikir berbasis hasil akhir (ends-based Thingking)
- Berpikir berbasis peraturan (rule base thingking)
- Berpikir berbasis rasa peduli (care base thingking)
Dan bagaimana cara mengujinya? Ini adalah 9 langkah yang
telah disusun secara berurutan
- Mengenali ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi
ini
- Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini
- Pengujian benar atau salah
- Uji legal
- Uji Regulasi/Standar Profesiaonal
- Uji intuisi
- Uji halaman Depan Koran
- Uji Panutan/Idola
- Pengujian paradigma benar atau salah
- Prinsip pengambilan keputusan
- Investigasi Opsi Trilema
Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi, apakah ad acara
berkompromi dalam situasi ini . Terkadang muncul sebuah penyelesaian yang
kreatif yang tidak terpikirkan sebelumnya yang bisa saja muncul ditengah-tengah
kebingungan menyelesaikan masalah.
Buat keputusan
Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan
Pengaruh
pengambilan keputusan dengan pembelajaran yang memerdekakan murid kita?
Sebagai seorang pendidik yang merupakan salah satu calon guru penggerak saya merasa terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 sebab sebelumnya kita sering menemukan dilema namun kita belum bisa mamang sebuah keputusan dengan baik baik terutama saat menemukan masalah belajar pada siswa, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul pendidik sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk memerdekakan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Dengan memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada siswa merupakan motivasi seorang pendidik dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akan memberikan yang terbaik untuk siswanya oleh karena itu keputusan yang baik pula untuk perkembangan siswanya.
Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya.
Kesimpulan akhir terkait modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga di mana proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta mengelola kompetensi sosial emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
pendekatan Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal inilah yang merupakan salah satu trik sebagai seorang pendidik bisa mengetahui permasalahan yang dialami oleh siswa lewat pertanyaan-pemantik saat coaching. Sebagai seorang guru penggerak juga harus mengetahui permasalahan yang dialami oleh rekan sejawat dalam proses pembelajaran dan coahing dapat menemukan jawaban atas setiap pertanyaan untuk menemukan solusi maka terciptalah budaya positif pada lingkungan belajar di sekolah dan komunitas praktisi. Para pendidik yang mampu membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan cita-cita guru masa depan, dan proses pengambilan keputusan berdasrakan dilema etika.
Sekian rangkuman materi 3.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin
Pembelajar, semoga bermanfaat untuk pembaca budiman.
Salam guru penggerak, GURU BERGERAK,
PENDIDIKAN MAJU ...
Setuju, dan yess !
BalasHapus