Selasa, 14 Desember 2021

1.4.a.6.1 Refleksi Terbimbing – Budaya Positif

 assalamualikum wrwb

Salam Bahagia Calon Guru penggerak 

Pada Modul 1.4.a.6.1 refleksi terbimbing  - Budaya Positif ada beberapa pertanyaan yang harus di jawab oleh CGP pertanyaannya sebagai berikut : 

1.     Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

  1. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti  tersebut dalam menciptakan budaya positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda.
  2. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, ada di posisi manakah Anda? Anda boleh menceritakan situasinya dan posisi Anda saat itu.
  3. Perubahan  apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
  4. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
  5. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
  6. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
  7. Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/kelas Anda setelah mengikuti sesi ini?
dan alternatif jawaban saya adalah sebagai berikut : 

1.  aDisiplin Positif

Menanamkan motivasi untuk menjadi orang yang mereka  inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai – nilai yang mereka percaya  tanpa terpengaruh adanya hukuman atau hadiah sehingga berpengaruh pada motivasi instrinsik yang berdampak jangka panjang

Untuk mewujudkan budaya positif yang kita cita- citakan  di sekolah-sekolah hal yang menjadi unsur utama kita lakukan adalah memahami konsep disiplin positif. Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan. Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali. 

Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

        Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga           mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki                     motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. 

b.   Posisi Kontrol Guru

     Ada lima posisi control yang dikemukakan oleh Diane Gossen dengan pendekatan Restitusi.

1).      Penghukum: Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. 

2).        Pembuat Orang Merasa Bersalah: pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti: “Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu” “Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?” “Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?” Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan  orang-orang disayanginya.

3).  Teman: Guru pada posisi ini tidak akan  menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata: “Ayo bantulah, demi bapak ya?” “Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?” “Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”. Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha, Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut. 

4). Monitor/Pemantau: Memonitor berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau: “Peraturannya apa?” “Apa yang telah kamu lakukan?” “Sanksi atau konsekuensinya apa?” Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi monitor sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.

5).   Manager: Posisi terakhir, Manager, adalah posisi mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua  posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.  Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.. 

 Akhir dari lima posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manager.  Dimana posisi ini murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka dan bertanggung jawab atas perilaku yang dia perbuat..sehingga tercipta lingkungan yang positif, aman dan nyaman.

c.       Kebutuhan Dasar Manusia

  1).    Kebutuhan bertahan hidup

Kebutuhan bertahan hidup (survival) adalah kebutuhan dasar yang bersifat fisiologis  untuk     bertahan hidup yang tercukupi. Apabila tidak terpenuhi akan mengganggu ketuhan hidup yang lainnya. misalnya kesehatan, rumah, dan makanan. 

2).    Cinta dan kasih sayang ( Kebutuhsn untuk diterima )

kebutuhan dasar cinta dan kasih sayang yang tinggi                biasanya ingin disukai dan diterima oleh lingkungannya. Mereka juga akrab                   dengan      orang tuanya. Biasanya mereka belajar karena suka pada gurunya. Bagi          mereka,            teman sebaya sangatlah penting.

 3).    Penguasaan ( Kebutuhan Pengakuan atas kemampuan )

 Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi               kompeten, menjadi terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan kita,                           didengarkan   dan memiliki rasa harga diri    

4).  Kesenangan ( Kebutuhan untuk merasa senang )

Kebutuhan akan kemandirian, otonomi, memiliki            pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup seseorang. Anak anak dengan                    kebutuhan kebebasan yang tinggi menginginkan pilihan, mereka perlu banyak                bergerak, suka mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh orang lain dan senang                mencoba hal baru dan menarik.

 5).    Kebebasan ( Kebutuhan akan Pilihan )

 Kebutuhan untuk mencari kesenangan, bermain, dan tertawa.

Dengan mengidentifikasi kebutuhan apa yang mendorong perilaku kita, maka perubahan perilaku positif dapat dimulai dengan mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut dari pad acara yang negative.

d.     Kenyakinan Kelas

Membuat keyakinan kelas untuk mengajarkan siswa bertanggung jawab atas apa yang telah         mereka tuliskan.

e.      Segitiga Restitusi

Salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di                  sekolah. Guru dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar                     menjadi murid merdeka.

 Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka,               sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat                           (Gossen;  2004) 

 Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk                  masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan                  bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). 

Saya lebih tertarik dengan materi Segitiga Restitusi yang jarang saya temukan pada guru-guru dalam menyelesaikan masalah siswa.


2. Pengalaman saya pernah menerapkan kesepatan kelas tapi belum berjalan maksimal.Ada satu hal lagi yang sering saya lakukan jika siswa melakukan kesalahan yaitu posisi control guru. Posisi control guru yang sering saya lakukan adalah Penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman dan pemantau. Hal posisi kontrol manager perlun segera untuk saya terapkan


3. Setiap guru pasti menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran. Selama ini       secara sadar ataupun tidak saya sebagai guru berperan sebagai penghukum, pembuat orang merasa        bersalah, teman, dan pengawas dalam hal mendisiplinkan siswa dan belum  menerapkan posisi       control Manager.


4. Perubahan  apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Setelah saya mempelajari modul ini saya lebih paham mengenai arti disiplin yang sebenarnya, jadi lebih mengetahui akan kebutuhan dasar seseorang. Hal ini perlu diketahui oleh seorang guru guna menciptakan suasana kelas yang aman dan nyaman. Selanjutnya mengetahui bagaimana menyelesaikan perilaku siswa yang menyimpang. saya juga harus memahami aspek posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia , keyakinan kelas dan segitiga restitusi

5.  Sangat penting. Sebagai individu  juga sebagai seorang yang memimpin kelas dalam pembelajaran menyadari bahwa seorang guru  harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. karakter murid tumbuh dengan baik.


6.  Dampak yang bisa saya lakukan setelah mempelajari modul ini adalah dengan menerapkan semua aspek/meteri di lingkungan sekolah.Tidak semudah membalik telapak tangan  atau “ tapi dengan usaha dan optimism yang tinggi hal ini bisa terwujud. Memulai menerapkan budaya positif dengan konsep perubahan paradigm stimulus menjadikan posisi Kontrol guru. Bijaksana dalam menyikapi kebutuhan dasar siswa, dan berusaha menerapkan segitiga restitusi.


7.   Peran orang tua juga masyarakat juga penting dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan sekolah. Semakin tingginya pendidikan masyarakatnya semakin besar kesadaran akan pendidikan seorang anak.

- menjadi contoh yang baik ( suri tauladan )

- memberi motivasi dan tuntunan

- melakukan pembiasaan yang baik.

8   Langkah-langkah awal yang saya lakukan adalah membuat keyakinan kelas demi ketentraman kelas.

- menanamkan disiplin positif pada murid

- Menentukan budaya positif untuk kesepakatan kelas

- menerapkan keyakinan dan menjalankan konsekuensinya

- Melakukan Refleksi, Evaluasi untuk meningkatkan keyakinan

Demikian  alternatif jawaban saya , semoga bermanfaat. salam bahagia

wassalamu'alaikum wrwb



 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar